<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995281149848830041</id><updated>2011-10-18T14:42:04.037+08:00</updated><category term='Islam'/><category term='Opini'/><category term='Catatan'/><title type='text'>anything</title><subtitle type='html'>menulis apa saja; sekedar melawan lupa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995281149848830041/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Acank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13713132451827329745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995281149848830041.post-4154885298727432289</id><published>2011-08-23T01:21:00.007+08:00</published><updated>2011-08-28T04:24:12.223+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Menonton Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Adzan ashar telah sampai di bait terakhir, motor yang saya kendarai sore itu melaju dengan tidak terburu-buru, saya fikir waktu masih luang karena ada sesi shalat sunnat qabliyah. Tetapi saya kaget, karena ini tidak seperti biasanya, setelah adzan, iqamat langsung terdengar. Pelataran Masjid Al-Furqan di kompleks Harapan Indah Bekasi saat itu terlihat ramai oleh kendaraan, pedagang, spanduk-spanduk dan bendera berlogo sebuah stasiun TV swasta. Setiba di masjid saya baru menyadari kalau ada rangkaian program Ramadhan berupa Tabligh Akbar yang ditayangkan secara &lt;em&gt;live&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masjid penuh, saya kebagian tempat di sisi luarnya saja. Shaf terdepan telah terisi oleh kamera besar yang disangga kakitiga, dua buah monitor layar datar, serta pendingin ruangan yang berdiri berbalut kain putih. Setelah shalat, lelaki di depan saya menyalami dua tiga orang di sebelah kanannya, lalu berbalik menyorongkan tangan ke arah orang-orang di belakangnya. Dia tampak terburu-buru, seperti juga halnya imam di depan sana yang memperpendek wirid-wiridnya. Orang itu bergegas ke tempat deretan perkusi, gamelan dan bedug yang dipasang memanjang di sisi sebelah kanan masjid. Dia lantas duduk memperbaiki letak songkoknya, melilitkan sorban dan mengenakan kacamata hitam. Rupanya dia adalah salah satu anggota Aura Percussion yang bertugas menyuguhkan bebunyian pembuka ataupun jeda ketika iklan harus permisi memotong acara. Beberapa saat setelah doa mencapai kata amin, siaran langsung segera dimulai. Riuh tetabuhan mengiringi suara gamelan membuka acara yang, kata satpam penjaga parkir, mirip barongsai. Bunyi-bunyian itu seakan menyeret saya keluar dari suasana sakral shalat di masjid ke dalam suasana riuh pesta. Saya berangkat ke masjid sore itu dengan motif keberagamaan yang paling dangkal, beribadah layaknya seorang pedagang, berhubung Tuhan masih jauh untuk saya gapai dengan pendekatan cinta. Ramadhan menawarkan pundi-pundi pahala yang sayang untuk dilewatkan. Ada paket ibadah combo yang saya pikir bisa menambah daftar catatan saya di kertas yang ditulis Raqib: bonus pahala berjamaah beserta shalat-shalat sunnat di masjid. Tetapi saya kecewa, kebaikan-kebaikan itu harus dipangkas oleh siaran yang harus tayang tepat waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selesai salam, ada sedikit jeda waktu sebelum kemudian &lt;em&gt;Host&lt;/em&gt; tampil membuka acara. Saya edarkan pandangan, masjid perlahan-lahan sesak, dengan tambahan jamaah yang terlambat datang, rangkaian &lt;em&gt;sound system&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;lighting&lt;/em&gt; yang terpasang di sudut-sudut ruangan, serta rel-rel yang menyeret kamera kesana kemari demi mendapatkan &lt;em&gt;view&lt;/em&gt; yang tidak melulu satu sisi saja, semuanya diangkut kedalam masjid. Masjid tiba-tiba terasa asing, berubah wajah menjadi sebuah studio. Ada dua orang penceramah di depan, yang satunya baru saja selesai menyampaikan sebuah cerita ketika tiba-tiba saya mendengar kalimat, “jangan kemana-mana, kita akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiba-tiba ada perasaan lain yang menjalari tubuh saya sehingga tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam keterhubungan yang tidak disengaja, saya menemukan beberapa tulisan yang menggambarkan fenomena-fenomena keagamaan dalam keterkaitannya dengan materialisme agama. Dalam kurun waktu tahun 1940-1960, di Kwitang, Majelis Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi selalu dibanjiri jamaah. Hampir seluruh masyarakat Betawi kala itu berguru di sana. Abdurrahman Wahid mencatat peristiwa tajamnya penyiasatan para kondektur dan kenek ketika hari Minggu tiba dalam sebuah esai yang berjudul “Kwitang, Kwitang”. Perubahan jalur-jalur angkutan umum yang mengakomodir kebutuhan orang-orang untuk sampai ke tempat pengajian memunculkan rute dadakan dari daerah X, Y atau Z ke daerah Kwitang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sesuatu yang awalnya suci, jika dilihat dari perspektif pengalaman pribadi jamaah pengajian yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai pencari ilmu, dalam perjalanannya akan bertransformasi menjadi sesuatu yang berdimensi sangat duniawi, yaitu ketika pemenuhan keinginan para jamaah tersebut tuntas dimanfaatkan demi keuntungan mereka yang bisa menawarkan jasa dan barang. Fenomena tersebut menunjukkan kompleksnya penghayatan agama, bila diletakkan dalam kerangka kemasyarakatan. Sama halnya jika dipindahkan ke dalam konteks ceramah-ceramah agama yang menjadi kian semarak khususnya di bulan Ramadhan ini, penyampaiannya menjadi tidak sesederhana dulu berkat adanya sarana komunikasi visual yang tidak lagi membatasi ruang. Di Amerika, televisi menyiarkan secara langsung khutbah-khutbah di gereja, yang dikenal dengan istilah Televangelisme. Dalam kaitannya dengan islam Indonesia, kita bisa melihat ceramah-ceramah agama yang ramai disiarkan setiap stasiun televisi. Namun, ceramah dan televisi adalah dua sisi yang berbeda. Kuntowijoyo membagi dua jenis budaya ke dalam Budaya Masjid dan Budaya Pasar. Pemilahannya didasarkan atas dua kutub yang berseberangan, budaya masjid sebagai penggambaran budaya masyarakat yang bersih dan jujur, jauh dari aspek hedonisme, sedangkan budaya pasar yang merujuk pada budaya masyarakat yang penuh tipu daya dan selalu mengedepankan kepentingan materi. Tetapi, semakin ke sini, semakin kabur batas antara keduanya ketika kemudian masjid dijadikan sebagai jalan pemenuhan kebutuhan pelaku pasar. Ceramah agama yang dalam hal ini bisa menjadi sarana serta proses internalisasi nilai-nilai agama menjadi terasa aneh ketika harus dipotong oleh iklan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Agama yang mengalami pendangkalan atas pemahamannya bersinergi dengan kemenangan budaya pasar. Sikap keberagamaan ekstrinsik terlihat jelas ditandai dengan orang-orang yang menganggap agama sebagai sesuatu yang bisa digunakan semaunya, &lt;em&gt;“something to use but not to live“&lt;/em&gt;. Tidak hanya sebatas fenomena Kwitang dan ceramah televisi yang dikemukakan di atas, kita bisa melihat jelas di ruang-ruang publik atau di sepanjang jalan, para politisi memasang gambar-gambar diri mereka dalam balutan busana muslim agar tercipta kesan saleh/salehah, menarik simpati masyarakat dengan membubuhi kata-kata indah serta ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Agama dikerdilkan perannya menjadi bagian dari mesin politik yang bisa menjala suara rakyat di ajang pemilu. Saya jadi teringat kata-kata dari akun mikroblogging Yudi Latif yang sepertinya cukup relevan dengan kasus-kasus tadi, di situ ia menyatakan bahwa “Tuhan tak pernah berubah, tapi cara mendekatinya yang berubah. Kini Tuhan diseru sebagai juru bayar ambisi konsumerisme manusia”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tali temali yang menjalin hubungan antara agama dengan sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakat, jika tidak dipahami secara mendalam sangat memungkinkan terjadinya degradasi nilai. Di saat yang sama, saya mendapati semacam menunjukkan sebuah dukungan terhadap kemunduran nilai itu, orang-orang hadir di masjid dengan membawa segala macam penanda status sosial, kunci mobil dan telepon-genggam-pintar yang sengaja dipajang menghiasi tempat sujud. Belum lagi kaum ibu yang datang dengan penampilan tidak praktis, memasukkan segala macam kerepotan ke dalam sebuah tas dan akan kewalahan ketika masih harus memerlukan beberapa jenak waktu untuk berganti kostum sementara shalat segera dimulai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam keputusan pulang meninggalkan masjid sore itu, saya membawa sejumlah kegelisahan dan pertanyaan, apakah majelis-majelis seperti ini yang ditayangkan setiap hari selama ramadhan memang benar diniati sebagai majelis ilmu dan sarana syiar agama, atau memang sejak mula telah menjadi kendaraan bagi para pemilik modal, dalam hal ini industri televisi, demi mengumpulkan keuntungan-keuntungan materi? Bagaimanapun, ramadhan berpotensi menjadi semacam pemicu bagi para pelaku di dunia pertelevisian untuk menyusun sejumlah program-program yang bisa meraup jumlah penonton sebanyak mungkin yang akan berakibat pada membanjirnya iklan. Lihat saja misalnya pada jam-jam sahur, hampir semua stasiun berlomba-lomba menayangkan hiburan yang seragam, dengan content yang konyol dan tidak bermutu serta jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Saya jadi berpikir, di sepertiga malam yang terakhir itu, bagaimana mungkin waktu yang seharusnya kita isi dengan banyak merintih menyesali dosa dan menangis di hadapan Tuhan, malah kita habiskan dengan tertawa terbahak-bahak di depan televisi. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995281149848830041-4154885298727432289?l=septemberduatujuh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/feeds/4154885298727432289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995281149848830041&amp;postID=4154885298727432289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995281149848830041/posts/default/4154885298727432289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995281149848830041/posts/default/4154885298727432289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/2011/08/menonton-ramadhan.html' title='Menonton Ramadhan'/><author><name>Acank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13713132451827329745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995281149848830041.post-1496466290293224075</id><published>2011-08-02T13:07:00.005+08:00</published><updated>2011-08-03T02:28:04.662+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Blog ini, seperti rumah bagi saya: tempat pulang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada beberapa tulisan yang lama, saya ingin simpan saja di bawah dashboard -sebagai draft, karena saya merasa sudah tidak layak tayang lagi di sini. Itu kelak menjadi cermin, bahwa betapa lucu masa lalu, ketika kita menginginkan dunia seperti apa yang ada di dalam batok kepala  kita, membacanya seolah-olah melihat diri sebagai bocah Palestina yang menggenggam batu di hadapan tank tentara Israel. Sudahlah, dunia terlalu besar, manusia maha kecil, dan idealisme itu akan mencair mencari titik komprominya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pertama kali publish tahun 2007, lalu mati suri entah karena apa (baca: malas).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Semakin banyak hal yang lewat, sepertinya kalau saya tidak menuliskannya maka memungkinkan saya luput mengambil makna dari berbagai-bagai peristiwa, sementara ini ingatan terlampau payah untuk merekam semuanya, dan saya pikir itu bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk menghidupkan lagi blog ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selamat Membaca :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995281149848830041-1496466290293224075?l=septemberduatujuh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/feeds/1496466290293224075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995281149848830041&amp;postID=1496466290293224075' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995281149848830041/posts/default/1496466290293224075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995281149848830041/posts/default/1496466290293224075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://septemberduatujuh.blogspot.com/2011/08/kembali.html' title='Kembali'/><author><name>Acank</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13713132451827329745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
