menulis apa saja; sekadar melawan lupa

Dec 1, 2009

Perihal Mimpi; Kecelakaan Motor, Martabak, dan Headphone



Pada kenyataannya, dengan melakukan verifikasi secara tekstual historis, saya menemukan fakta sejarah bahwa seseorang yang bernama Yusuf putra Ya’qub, adalah penafsir mimpi yang mumpuni, dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Tentunya dengan melakukan sebuah lompatan pengetahuan, atau yang biasa disebut sebagai bentuk keberimanan; mempercayai sesuatu dengan menarik konklusi dari ketidakmampuan menjelaskan premis-premis penyusun, kelak oleh sebagian orang termasuk saya, meyakininya sebagai Nabi. Yang menarik dari bentuk keberimanan adalah sebagian orang termasuk saya melakukan “lompatan” tanpa mempunyai titik landasan/pijakan yang kuat. Alih-alih bisa sampai pada target lompatan, justru malah bisa terjatuh dan terjerembab.

Cerita tentang kemampuan Nabi Yusuf menafsirkan mimpi itu sudah ada jauh sebelum Sigmund Freud menyedot perhatian banyak orang pada awal abad ke-19, ketika menerbitkan buku yang berjudul “The Interpretation of Dreams”, atau ketika psikolog Carl Gustav Jung menyampaikan ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan yang membahas tentang mimpi.


Tulisan ini tak akan membahas dari mana Yusuf memperoleh ilmu Futurologi, tulisan ini juga tidak akan fokus terhadap hasil-hasil penelitian Freud dan Jung, namun hanya akan menceritakan pengalaman pribadi saya.


Beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan di inbox dari seorang teman :


“Maaf baru balas pesanmu, saya baru online lagi, kabar buruk : saya habis kecelakaan tanggal 20, tabrakan motor, lumayan sih cederanya sampe seminggu ga masuk kantor”


Sambil mengingat-ngingat, ternyata memang beberapa hari sebelumnya saya iseng mengirimkan pesan menanyakan kabar kepadanya. Hubungan saya dengan teman saya itu sebenarnya sudah sangat renggang, terkhusus masalah komunikasi. Saya nyaris kehilangan kontak sebelum akhirnya Facebook mempertemukan kami kembali setelah berpisah kurang lebih delapan tahun, terakhir kali bertemu saat pesta perpisahan kelulusan SMA. Waktu yang cukup lama, dan jarak yang terentang cukup jauh, memisahkan kami. Hingga pada suatu malam saya memimpikannya. Besok paginya, saya mengirim pesan via FB :


“Eh, gimana kabar, kamu baik2 saja kan?”


Yang saya pikir aneh adalah kecelakaannya terjadi tanggal 20, dan setelah saya periksa tanggal ketika saya mengiriminya pesan, saya kaget ketika menemukan di situ tertulis tanggal 21, yang artinya malam waktu saya memimpikannya adalah hari yang sama ketika terjadinya kecelakaan. Saya sedikit bingung, padahal dia kini berada jauh, hingga berjarak ribuan kilometer dari tempat saya tidur malam itu.


Mimpi yang hadir di dalam tidur adalah keadaan di mana kesadaran kita menjadi lebih lemah dan ketidaksadaran menjadi lebih banyak bekerja. Seperti yang seringkali saya dengar, ketidaksadaran adalah dunia kejiwaan yang jauh lebih luas, yang menjadi alasan penting mengapa psikologi menganggap perlunya memperhatikan mimpi. Mimpi adalah sumber informasi yang penting dalam memahami pesan-pesan yang mengalir dari dunia ketidaksadaran (the Unconscious). Sayangnya, pesan-pesan dari ketidaksadaran keluar lewat simbol-simbol yang seringkali membingungkan, seperti simbol sapi kurus memakan sapi gemuk dalam konteks mimpi Raja yang ditafsirkan Nabi Yusuf. Karena jalurnya adalah simbol, mimpi tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Dalam bekerja, penafsir mimpi butuh pengetahuan tentang simbol-simbol.


Mengenai simbol, teman saya pernah mencoba menafsirkan sendiri ketika mimpi bertemu ibunya yang beberapa hari sebelumnya meninggal dunia. Diceritakan bahwa ketika itu dia sedang memasak, dan ibunya sedang duduk memperhatikan. Ketika masakannya sudah jadi, dia menawarkan kepada ibunya dan ibunya dengan tenang menolak tawaran itu. Penolakan ibunya dalam mimpi itu ditafsirkan sebagai simbol kecukupan bekal bagi ibunya untuk berhadapan dengan dunia barzakh.


Pada minggu dini hari, saya bermimpi lagi, ketika televisi, yang menyiarkan pertandingan Aston Villa menjamu Tottenham Hotspur, sedang asik menonton saya yang tertidur. Dalam mimpi, saya bertemu dengan senior kampus yang biasa saya panggil Om Jeszy dan Tante Lisa sedang duduk berdua di beranda rumah saya sambil menawarkan martabak kepada saya. Setelah itu melompat ke scene lain, saya sedang berada di kamar kost seorang kawan yang bernama Andis. Ia memperlihatkan kepada saya beragam jenis headphone untuk menikmati musik. Dan kemudian saya terbangun oleh bunyi sms dari seorang teman yang menanyakan:


“Udah tidur?”


Ketika berada dalam kesadaran penuh, saya mengingat lagi mimpi barusan dan membandingkannya dengan mimpi tentang teman saya yang kecelakaan, sambil memikirkan tafsir simbol martabak dan headphone.


Ah, sebenarnya cerita ini terlalu panjang, padahal sebenarnya saya hanya ingin menanyakan:

"Bagaimana kabarmu Andis, Om Jeszy, Tante Lisa?
Kalian baik-baik saja kan?"

***




Cipulir, 30 November 2009

Tags:

1 comment:

phio said...

begitupun daku,perihal mimpi cukup sering bercerita dengan kejadian yang stelah aku cek bersamaan terjadinya. sekaligus menjadi tanda tanya besar tentang sign di mimpi2 itu. kok bisa yach???


© Technology 2013 All rights reserved Template by Buhth