menulis apa saja; sekadar melawan lupa

Jul 4, 2014

Jeff Buckley

SAYANG sekali ia mati muda, mengenaskan pula, tenggelam di Sungai Wolf di Memphis dalam usia 30 tahun. Karir bermusiknya terbilang pendek, hanya dalam kurun waktu kurang lebih tujuh tahun. 



Ini tentang lagu-lagu Jeff Buckley.

Saya, kalau bosan datang dan saya ingin membunuhnya, saya menjepitkan headphone ke kedua telinga, menyalakan iTunes dan menyetelnya dalam mode shuffle. Dengan begini, saya bisa menemukan satu dua lagu enak dari timbunan 800-an album di dalam library yang belum semuanya pernah saya dengarkan. Saya merasa excited ketika sampai pada, “Eh, ini lagu apa, koq enak ya…”, dan kemudian akan bergerak menelusuri siapa yang nyanyi, lagu-lagunya yang lain bagaimana, albumnya apa saja, berapa banyak, serta yang mana yang paling hits. Kalau ada waktu lebih, saya akan lebih jauh lagi, siapa influence-nya, sampai brand equipment atau gear apa yang ia gunakan, utamanya kalau ia musisi rock. Ini termasuk ketika menemukan Last Goodbye.

Last Goodbye termasuk dalam album Grace, album studio milik Jeff Buckley, yang terjual lebih dari dua juta copy di seluruh dunia, dan termasuk dalam list The 500 Greatest Album of All Time-nya Majalah Rolling Stone, serta memuncaki daftar Best 25 Album of the Year di Inggris pada tahun 1994. Di situs Allmusic, album ini adalah salah satu yang mendapat rating lima bintang. Masih banyak sebenarnya daftar panjang penghargaan yang disematkan untuk album Grace, baik semasa Buckley hidup atau setelahnya, tapi saya pikir tak perlu saya urai di sini. Bagi saya, kendati tanpa penghargaan satu buah pun kalau lagu itu bagus dan enak didengarkan, maka saya merasa cukup sampai di situ. Kadang kala, sih. 

Di dalam library, ada dua lagu dari album Grace yang  saya masukkan ke Top Rated list, yang pertama yang saya sebut di awal tadi, dan lagu lain yang berjudul Eternal Life. Keduanya seolah disusupi aroma grunge yang sedikit komplit dan rumit. Komposisi Last Goodbye terdiri dari violin, gitar akustik, serta dinyanyikan dengan teknik falsetto yang mumpuni, sementara Eternal Life dipenuhi distorsi bass (ini hal yang jarang dijumpai) yang tegas, dengan beat yang menghentak-hentak. Mick Gr√łndahl yang mengisi bass section dalam lagu ini patut diangkatkan topiSaya mendengarkannya dengan seksama, memperhatikan ketukan drumnya yang enak, dengan pola hi-hat yang tak lazim. Kalau kamu dalam keadaan kurang bersemangat, dengarkan saja kedua lagu ini, niscaya. Penggemar Nirvana atau Pearl Jam sepertinya boleh melirik Jeff Buckley sebagai alternatif yang tidak terlalu mainstream. 

Main genre Buckley sebenarnya adalah alternative dan folk rock, meski di usia remaja sebelum karir profesionalnya dimulai, ia sering bermain jazz dan juga funk. Tersebab oleh itu yang barangkali membuat album Grace ini berwarna. Buckley dikenal sebagai salah seorang vokalis yang mempunyai rentang suara tenor yang lebar, tiga sampai empat setengah oktav. Itu ia tegaskan dalam lagu So Real dan Grace. Di bagian ending-nya, ia bahkan mampu menyentuh peak dari nada G tinggi. Perihal teknik falsetto, ia juga jago. Bolehlah diadu dengan Matt Bellamy. Corpus Christi Carol, lagu tradisional yang ditulis Benjamin Britten dibawakannya dengan sangat lembut, lambat, dan melenakan, terdengar bahkan seperti suara perempuan (meski ketika menulis ini, saya belum sempat membandingkannya dengan versi asli yang dinyanyikan Janet Baker–saya hanya mendengar versi guitar instrument yang dibawakan Jeff Beck di album Emotion & Commotion, namun tetap saja menghasilkan kesan sama, soft and sharp). Bagi yang suka bikin playlist “Lullaby”, lagu ini sangat boleh dipertimbangkan. 

Timbre suara Buckley memang akan meninggalkan rasa getir ketika kita khusyu’ menyimaknya. Kalau vibrasi dan falsettonya bertemu di satu tempat, bisa jadi itu akan membuatmu meneteskan air mata. Hallelujah, lagu milik Leonard Cohen yang di-cover dengan sempurna akan menyeretmu ke dalam suasana magis yang nyaris kudus. Lirik lagu itu seakan menyiratkan pesan perpisahan Buckley, “I did my best, it wasn’t much…"

Dalam kurun karirnya yang singkat itu, Buckley hanya menghasilkan dua album, Grace, dan satunya lagi adalah album yang belum selesai namun kemudian dirilis setelah kematiannya, berjudul Sketches for My Sweetheart the Drunk.

Saya merasa terlambat mengenal Jeff Buckley, tapi pada akhirnya lagu dan juga cerita hidupnya meninggalkan kesan yang dalam. Jikalau saja umurnya lebih panjang, saya percaya kalau karirnya akan sama tinggi dengan suaranya. 

Namun, sayang ia mati muda.




© Technology 2013 All rights reserved Template by Buhth