menulis apa saja; sekadar melawan lupa

Aug 23, 2011

Menonton Ramadhan

Adzan ashar telah sampai di bait terakhir, motor yang saya kendarai sore itu melaju dengan tidak terburu-buru, saya fikir waktu masih luang karena ada sesi shalat sunnat qabliyah. Tetapi saya kaget, karena ini tidak seperti biasanya, setelah adzan, iqamat langsung terdengar. Pelataran Masjid Al-Furqan di kompleks Harapan Indah Bekasi saat itu terlihat ramai oleh kendaraan, pedagang, spanduk-spanduk dan bendera berlogo sebuah stasiun TV swasta. Setiba di masjid saya baru menyadari kalau ada rangkaian program Ramadhan berupa Tabligh Akbar yang ditayangkan secara live.

Masjid penuh, saya kebagian tempat di sisi luarnya saja. Shaf terdepan telah terisi oleh kamera besar yang disangga kakitiga, dua buah monitor layar datar, serta pendingin ruangan yang berdiri berbalut kain putih. Setelah shalat, lelaki di depan saya menyalami dua tiga orang di sebelah kanannya, lalu berbalik menyorongkan tangan ke arah orang-orang di belakangnya. Dia tampak terburu-buru, seperti juga halnya imam di depan sana yang memperpendek wirid-wiridnya. Orang itu bergegas ke tempat deretan perkusi, gamelan dan bedug yang dipasang memanjang di sisi sebelah kanan masjid. Dia lantas duduk memperbaiki letak songkoknya, melilitkan sorban dan mengenakan kacamata hitam. Rupanya dia adalah salah satu anggota Aura Percussion yang bertugas menyuguhkan bebunyian pembuka ataupun jeda ketika iklan harus permisi memotong acara. Beberapa saat setelah doa mencapai kata amin, siaran langsung segera dimulai. Riuh tetabuhan mengiringi suara gamelan membuka acara yang, kata satpam penjaga parkir, mirip barongsai. Bunyi-bunyian itu seakan menyeret saya keluar dari suasana sakral shalat di masjid ke dalam suasana riuh pesta. Saya berangkat ke masjid sore itu dengan motif keberagamaan yang paling dangkal, beribadah layaknya seorang pedagang, berhubung Tuhan masih jauh untuk saya gapai dengan pendekatan cinta. Ramadhan menawarkan pundi-pundi pahala yang sayang untuk dilewatkan. Ada paket ibadah combo yang saya pikir bisa menambah daftar catatan saya di kertas yang ditulis Raqib: bonus pahala berjamaah beserta shalat-shalat sunnat di masjid. Tetapi saya kecewa, kebaikan-kebaikan itu harus dipangkas oleh siaran yang harus tayang tepat waktu.

Selesai salam, ada sedikit jeda waktu sebelum kemudian Host tampil membuka acara. Saya edarkan pandangan, masjid perlahan-lahan sesak, dengan tambahan jamaah yang terlambat datang, rangkaian sound system, lighting yang terpasang di sudut-sudut ruangan, serta rel-rel yang menyeret kamera kesana kemari demi mendapatkan view yang tidak melulu satu sisi saja, semuanya diangkut kedalam masjid. Masjid tiba-tiba terasa asing, berubah wajah menjadi sebuah studio. Ada dua orang penceramah di depan, yang satunya baru saja selesai menyampaikan sebuah cerita ketika tiba-tiba saya mendengar kalimat, “jangan kemana-mana, kita akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini!”

Tiba-tiba ada perasaan lain yang menjalari tubuh saya sehingga tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pulang.


***


Dalam keterhubungan yang tidak disengaja, saya menemukan beberapa tulisan yang menggambarkan fenomena-fenomena keagamaan dalam keterkaitannya dengan materialisme agama. Dalam kurun waktu tahun 1940-1960, di Kwitang, Majelis Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi selalu dibanjiri jamaah. Hampir seluruh masyarakat Betawi kala itu berguru di sana. Abdurrahman Wahid mencatat peristiwa tajamnya penyiasatan para kondektur dan kenek ketika hari Minggu tiba dalam sebuah esai yang berjudul “Kwitang, Kwitang”. Perubahan jalur-jalur angkutan umum yang mengakomodir kebutuhan orang-orang untuk sampai ke tempat pengajian memunculkan rute dadakan dari daerah X, Y atau Z ke daerah Kwitang.

Sesuatu yang awalnya suci, jika dilihat dari perspektif pengalaman pribadi jamaah pengajian yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai pencari ilmu, dalam perjalanannya akan bertransformasi menjadi sesuatu yang berdimensi sangat duniawi, yaitu ketika pemenuhan keinginan para jamaah tersebut tuntas dimanfaatkan demi keuntungan mereka yang bisa menawarkan jasa dan barang. Fenomena tersebut menunjukkan kompleksnya penghayatan agama, bila diletakkan dalam kerangka kemasyarakatan. Sama halnya jika dipindahkan ke dalam konteks ceramah-ceramah agama yang menjadi kian semarak khususnya di bulan Ramadhan ini, penyampaiannya menjadi tidak sesederhana dulu berkat adanya sarana komunikasi visual yang tidak lagi membatasi ruang. Di Amerika, televisi menyiarkan secara langsung khutbah-khutbah di gereja, yang dikenal dengan istilah Televangelisme. Dalam kaitannya dengan islam Indonesia, kita bisa melihat ceramah-ceramah agama yang ramai disiarkan setiap stasiun televisi. Namun, ceramah dan televisi adalah dua sisi yang berbeda. Kuntowijoyo membagi dua jenis budaya ke dalam Budaya Masjid dan Budaya Pasar. Pemilahannya didasarkan atas dua kutub yang berseberangan, budaya masjid sebagai penggambaran budaya masyarakat yang bersih dan jujur, jauh dari aspek hedonisme, sedangkan budaya pasar yang merujuk pada budaya masyarakat yang penuh tipu daya dan selalu mengedepankan kepentingan materi. Tetapi, semakin ke sini, semakin kabur batas antara keduanya ketika kemudian masjid dijadikan sebagai jalan pemenuhan kebutuhan pelaku pasar. Ceramah agama yang dalam hal ini bisa menjadi sarana serta proses internalisasi nilai-nilai agama menjadi terasa aneh ketika harus dipotong oleh iklan.

Agama yang mengalami pendangkalan atas pemahamannya bersinergi dengan kemenangan budaya pasar. Sikap keberagamaan ekstrinsik terlihat jelas ditandai dengan orang-orang yang menganggap agama sebagai sesuatu yang bisa digunakan semaunya, “something to use but not to live“. Tidak hanya sebatas fenomena Kwitang dan ceramah televisi yang dikemukakan di atas, kita bisa melihat jelas di ruang-ruang publik atau di sepanjang jalan, para politisi memasang gambar-gambar diri mereka dalam balutan busana muslim agar tercipta kesan saleh/salehah, menarik simpati masyarakat dengan membubuhi kata-kata indah serta ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Agama dikerdilkan perannya menjadi bagian dari mesin politik yang bisa menjala suara rakyat di ajang pemilu. Saya jadi teringat kata-kata dari akun mikroblogging Yudi Latif yang sepertinya cukup relevan dengan kasus-kasus tadi, di situ ia menyatakan bahwa “Tuhan tak pernah berubah, tapi cara mendekatinya yang berubah. Kini Tuhan diseru sebagai juru bayar ambisi konsumerisme manusia”.

Tali temali yang menjalin hubungan antara agama dengan sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakat, jika tidak dipahami secara mendalam sangat memungkinkan terjadinya degradasi nilai. Di saat yang sama, saya mendapati semacam menunjukkan sebuah dukungan terhadap kemunduran nilai itu, orang-orang hadir di masjid dengan membawa segala macam penanda status sosial, kunci mobil dan telepon-genggam-pintar yang sengaja dipajang menghiasi tempat sujud. Belum lagi kaum ibu yang datang dengan penampilan tidak praktis, memasukkan segala macam kerepotan ke dalam sebuah tas dan akan kewalahan ketika masih harus memerlukan beberapa jenak waktu untuk berganti kostum sementara shalat segera dimulai.


***


Dalam keputusan pulang meninggalkan masjid sore itu, saya membawa sejumlah kegelisahan dan pertanyaan, apakah majelis-majelis seperti ini yang ditayangkan setiap hari selama ramadhan memang benar diniati sebagai majelis ilmu dan sarana syiar agama, atau memang sejak mula telah menjadi kendaraan bagi para pemilik modal, dalam hal ini industri televisi, demi mengumpulkan keuntungan-keuntungan materi? Bagaimanapun, ramadhan berpotensi menjadi semacam pemicu bagi para pelaku di dunia pertelevisian untuk menyusun sejumlah program-program yang bisa meraup jumlah penonton sebanyak mungkin yang akan berakibat pada membanjirnya iklan. Lihat saja misalnya pada jam-jam sahur, hampir semua stasiun berlomba-lomba menayangkan hiburan yang seragam, dengan content yang konyol dan tidak bermutu serta jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Saya jadi berpikir, di sepertiga malam yang terakhir itu, bagaimana mungkin waktu yang seharusnya kita isi dengan banyak merintih menyesali dosa dan menangis di hadapan Tuhan, malah kita habiskan dengan tertawa terbahak-bahak di depan televisi. (*)



Tags: ,

2 comments:

Luqman said...

Selamat berpuasa, Bang Ahsan... :)

Jeszy Wan Irfandy Waris said...

keren tulisannya bang, semakin kagum saya sama abang ini


© Technology 2013 All rights reserved Template by Buhth