menulis apa saja; sekadar melawan lupa

Aug 13, 2013

Pulang

INI tentang jarak. Dari kampung halaman hingga ke tempat saya berdiri sekarang terentang satu setengah hari perjalanan. Jika kecepatan kapal konstan di angka 9 knot, maka butuh 26 jam untuk sampai di pelabuhan terdekat, ditambah 5 jam perjalanan darat dan 4 jam di udara. Di antaranya ada empat airport berbeda yang harus disinggahi.

Arus takdir telah menyeret saya untuk sampai di sini, saat ini, terapung-apung di atas laut lepas, demi sebuah proyek mengeruk emas hitam dari perut bumi, jauh di sisi sebelah barat rumah yang awalnya saya niati untuk pulang jika Ramadhan hampir berakhir.



***



Saya terbangun akibat kolaborasi guncangan kapal dan mimpi jatuh ke laut lalu harus berjibaku menyelamatkan diri dari kepungan segerombolan hiu hammerhead. Mimpi buruk semacam ini akibat kebiasaan lupa berwudhu serta melalaikan adab tidur. Saya merogoh iPod di bawah bantal. Benda kecil yang saya alihfungsikan sebagai penanda waktu itu menerakan angka tiga dini hari di layarnya. Sepertinya tadi saya kelelahan akibat terlalu lama menatap monitor, hingga akhirnya tergeletak begitu saja dengan coverall setengah terbuka, semacam tidur tanpa rencana. Setelah memohon ampun kepada Tuhan berulang kali, saya bangkit menuju kamar mandi.

Terngiang perkataan Faiz sore tadi, monsoon datang lebih awal, meski hari ini kalender baru saja berganti lembar dari Juli ke Agustus. Kapal rolling, terasa seperti ada gempa. Kemarin dan sekian belas hari sebelumnya keadaan masih baik-baik saja, tidak begini. Sembari berpegangan pada dinding kabin, saya berjalan keluar terhuyung-huyung bak orang mabuk. Di dalam kamar mandi saya temukan Pak Komang tengah khusyu' menenggelamkan kepalanya di lubang wastafel, dia sudah dapat jackpot lebih dulu. Berita cuaca mengatakan, ini masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Besoknya, sesuai prediksi, Laut Cina Selatan berubah perangai menjadi genit, angin bertiup kencang 83 km/jam, ombak 2 meter, hujan jatuh horizontal. Pintu-pintu ditutup rapat. Terdengar suara Bu Suci, Chief Officer yang sedang bertugas di bridge berteriak dari balik corong, mengingatkan bagi yang tidak berkepentingan untuk tidak keluar ruangan. Kalau melihat kondisi, sepertinya yang berkepentingan pun akan mengurungkan niatnya. Hanya Bosun, lelaki tinggi dan berbadan tegap, terlihat berlari-lari di back-deck, tanpa work vest, tanpa raincoat, seolah rasa takut telah tercerabut dari dirinya. Entah apa yang ia bereskan di belakang sana, mungkin menutup pintu container agar gun compressor tidak basah oleh tempias hujan. Kami yang berada di survey room menatap keadaan di luar dari balik pintu kaca sambil tersenyum menguatkan hati. Saya curiga sepenuhnya, orang-orang di dalam sini sebenarnya diam-diam sedang merapal doa. Saya, pun. Cuaca buruk dan tinggi ombak memang selalu berbanding lurus dengan kadar keimanan. Ah, manusia. Hari hampir magrib ketika suara Bu Suci muncul lagi menyampaikan maklumat, waktu berbuka jatuh pada pukul 19.25.

Tersiar kabar, nun jauh di darat sana, para petinggi di kantor pusat telah mengetuk palu untuk sebuah keputusan penambahan lokasi survey dan durasi waktu kerja. Dengan merujuk hasil hitung-hitung kasar, baru sekitar tanggal 11 atau 12 pagi kami bisa sampai di Pelabuhan Kemaman, jika semua lancar dan cuaca mendukung. Tapi melihat gelagat alam dua hari ini, semuanya menjadi kabur. Dari draft purchase order, seharusnya saya dan beberapa orang crew digital dipulangkan lima hari sebelum lebaran. Tapi atas nama efektifitas dan efisiensi, demi penghematan waktu dan biaya operasional, kami dipersilakan untuk mengucapkan selamat tinggal pada kebahagiaan berkumpul bersama keluarga di hari raya.

Jangan tanya hal ini pada Craig dan Byron, dalam kamus mereka berdua tidak ada istilah mudik, meski kampungnya jauh di bagian selatan Inggris Raya. Sementara Faiz, ia, pada suatu malam telah mengumumkan keterbuangannya, bahwa ayahnya pun tak akan mencari jika ia tak pulang, untuk itu ia tak peduli pada tambahan lima atau sepuluh hari kerja. Ia hanya ingin memastikan tanggal 21 nanti ia sudah harus berada di Kuala Lumpur untuk bergabung bersama ribuan pendukung musik cadas menyaksikan konser Metallica. Shaf depan panggung telah ia pastikan menjadi miliknya, ditandai dengan selembar tiket yang ia bayar mahal, 600 ringgit. Bagaimana dengan Izuan? Dari yang tersirat di wajahnya saya tidak berhasil menangkap ekspresi apa-apa, entah senang entah kecewa. Dan saya, atas keputusan ini, hanya mendapat semacam kejutan mental yang hampir tidak terbayangkan sebelumnya. Alih-alih kesal, saya juga bersikap seperti kawan-kawan lain, tenang-tenang saja.  Saya tidak boleh kecewa karena tidak pulang, karena itu bisa membakar hangus niat awal saya berada di sini. Bukan berarti, berlebaran di kampung sama dengan bahagia, lantas tidak berlebaran di kampung sama dengan tidak bahagia. Bukan itu. Tapi, lebih tepatnya karena kebahagiaan itu telah saya retas dan bagi rata kepada kondisi apapun yang tertakdir bagi diri saya. Saya senantiasa belajar bagaimana untuk tidak mempunyai alasan untuk tidak merasa bahagia. Begitu. Lagipula, walaupun standby, there is now way to go home. So, enjoy aja lah. Berita baiknya, allowance tetap terhitung sebagai kompensasi overtime untuk saya dan empat orang tadi. It's easy money. Meski memang, konsekuensi dari keputusan menerima pekerjaan ini adalah menyerahkan sepenuhnya kendali atas waktu milik diri kepada mereka yang bertindak selaku pembeli jasa, dalam hal ini client.

Bulan Puasa memasuki paruh sepertiga akhir ketika tugas-tugas saya sudah selesai. Tinggal menunggu crew analog merampungkan Pipe Line Survey yang masih tersisa berkilo-kilo meter panjangnya, baru setelah itu kapal boleh sailing pulang merapat ke darat. Karena mengingat tidak bisa berlebaran di rumah, sebagian teman sudah menunjukkan tanda-tanda "hampir gila". Zaidi sering kali tiba-tiba menggebrak meja lalu berlari melompat keluar dari ruangan, menyalakan rokok dan menggerak-gerakkan tangannya seperti menulis sesuatu di udara. Hanna pun tak kalah aneh, perempuan bertubuh mungil ini pernah sekali waktu muncul di hadapanku sambil menenteng walkie talkie dan tiba-tiba berbaring telentang di atas bangku kayu. Kala itu, saya langsung pura-pura buta. Pak Bachir, yang paling tua di antara kami, sekaligus bertindak selaku Kepala Proyek, menurut penuturan Bu Suci, kadang kala di bridge seperti ada yang menekan tombol on/off di punggung Pak Bachir jika lagu favoritnya terputar di PC. Ia akan langsung berdiri berjoget-joget dan akan duduk tenang kembali begitu lagu habis. Saya tidak bisa membayangkan adegan itu dilakonkan oleh orang yang mempunyai perangai mudah naik pitam dan selalu mengatakan "I'll kill you…" jika melihat perilaku yang tak sesuai dengan kehendak hatinya. Pak Komang lain lagi, di siang hari saat semua sedang serius bekerja, ia berdiri di belakang kursi salah seorang kawan kemudian menari berputar memamerkan biskuit yang ia makan sambil menggoda orang-orang yang berpuasa. Besar kemungkinan, malam itu di kamar mandi ia muntah akibat karma biskuit.

Dan, sebelum ikut tertular penyakit gila, mumpung Ramadhan masih tersisa beberapa hari lagi, saya memutuskan berdiam di kamar, melanjutkan agenda mengurung diri, menyelesaikan yang selama ini terabaikan, mushaf yang merindukan genggaman, juz-juz yang menanti ditamatkan. Saya berencana mengulang lagi pola rutinitas tidur-bangun-shalat-ngaji. Tapi ternyata saya tidak cukup kuat. Jam biologis berubah akibat jadwal kerja yang tidak teratur. Tidur malah jadi lebih banyak, seolah tubuh butuh balas dendam atas jatah istirahat yang tergadai.


***


Pada proyek offshore kali ini, saya tidak membawa buku bacaan. Selain malas, tentu saja hal itu bisa menambah berat tas. Meski akhirnya saya menyesal juga ketika rasa bosan mencapai taraf akut. Saat saya bertanya kepada kawan-kawan siapa di antara mereka yang punya buku, semuanya menggeleng, kecuali Pak Komang. Ia menyodorkan dua, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, ini sudah pernah saya baca sebelumnya, maka saya tolak. Yang satunya lagi adalah novel berbahasa inggris, ini juga saya tolak karena sudah pasti saya tidak mengerti.

Akhirnya, sebagai alternatif pembunuh waktu, saya mencoba mencari bacaan yang menarik di internet. Salah satu halaman yang ter-bookmark di browser adalah weblog pejalanjauh milik Zen Rahmat. Saya sengaja memilih secara acak. Klik kursor jatuh di arsip bulan Oktober 2007. Yang saya dapati, hampir semua tulisan di bulan itu bertema lebaran. Kebetulan yang aneh. Di dalam salah satu tulisannya saya menemukan, "Sungkem di haribaan ibu memang laku yang menggetarkan. Tapi, memilih secara sadar untuk tidak sungkem pada ibu, pastilah jauh lebih menggetarkan, karena pilihan itu dibayangi oleh sekian rasa takut…"

Saya jadi teringat rumah. Rumah yang jauh yang hanya bisa saya jangkau lewat direct message akun twitter milik adik saya. Di kotak kecil itu, baru saja saya menyampaikan pesan, "Terkirim uang seadanya untuk keperluan lebaran, tolong selesaikan urusan zakat saya. Sampaikan salam, permohonan maaf serta sembah sujud saya kepada mama, saya tidak bisa pulang, masih ada kerjaan…"

Dada saya sesak.


***


Temaram sisa senja membias di ufuk. Seusai berbuka di galley, saya keluar dan duduk sejenak menunggu gradasi langit berakhir pada gelap. Seketika, ada yang seolah-olah memantik rindu. Perasaan itu perlahan-lahan menjalari tubuh saya.

Di dalam kamar, setelah selesai shalat magrib, saya duduk termenung mengingat tahun-tahun yang lewat. Saat-saat seperti ini suasana akan ramai oleh riuh petasan dan kembang api, bersahut-sahutan dengan gemuruh suara menara-menara masjid yang me-Maha-Besar-kan Nama Tuhan. Tidak ada hal itu di sini, selain bising mesin, sisanya sunyi belaka. Saya hanya mendengar suara takbir yang keluar dari mulut sendiri dengan terbata-bata.

Di ujung malam, saya membisikkan sesuatu, "Mohon, Tuan Atid, jangan tutup dulu buku catatan amal saya, invoice baru cair bulan depan…" 




***



Pagi ini saya patuh pada alarm. Saya tadi membuat perjanjian sebelum tidur, bahwa saya akan bangun pukul lima. Tidak seperti biasanya, kali ini snooze tidak berlaku. Subuh masuk 45 menit lagi. Saya diliputi rasa penasaran perihal akan seperti apa hari ini terlewati.

Setelah shalat subuh tunai, saya naik ke bridge, mendekat ke antena pemancar wi-fi, mencoba untuk berhubungan dengan dunia luar. Tiba-tiba Bu Suci muncul dan menyampaikan bahwa kita akan melaksanakan shalat Ied pada pukul delapan di muster station. Saya tidak menyangka. Ini kejutan. Saya menengok keluar, ke tempat yang berfungsi sebagai meeting point jika misalnya terjadi insiden abandon ship ataupun kebakaran. Terlihat Harris dan Pak Barja sedang menggelar terpal. Bu Suci menyetel file mp3 yang ia copy dari laptop Izuan. Ia mengarahkan microphone ke hadapan loudspeaker komputer. Lamat-lamat terdengar toa mengumandangkan takbiran. Saya menghentikan kegiatan, bergegas ke bawah untuk mandi.  

Beberapa orang telah lebih dulu berada di muster station ketika saya ikut bergabung. Satu per satu kawan menyusul dan menyusun shaf di atas terpal berlapis lembar-lembar peta yang tidak terpakai. Takbir dipimpin oleh Electrician, meskipun suaranya terdengar kurang jelas ditelan bunyi yang dihasilkan ventilasi engine room. Kapten Kahar muncul terakhir. Tugas mengemudikan kapal sementara waktu diserahkan kepada Byron. Ia mahir untuk itu dan pula memiliki lisensi.

Salah seorang marine crew, Romi, yang sehari-harinya bertugas di lambung kapal sebagai oiler, berdiri maju ke depan, mengingatkan kembali perihal tata cara shalat Ied. Ia sekaligus didaulat menjadi imam, dengan tandem Zaidi sebagai khatibnya. Sepertinya pagi ini Zaidi kembali menjadi waras setelah berhari-hari (hampir) gila.

Dalam keterbatasan itu, kami tidak tahu entah syarat dan rukun yang mana dari pelaksanaan shalat Ied yang terabaikan. Mungkin saja dari segi limit terendah kuantitas jamaah, mengingat yang berkumpul hanya berjumlah dua puluh orang dan kesemuanya laki-laki. Bu Suci dan Hanna tidak ikut bergabung karena sesuatu dan lain hal–you know what i mean. Tapi, terlepas dari itu, segala persembahan kami pagi ini hanya dilatarbelakangi oleh sebuah itikad baik dan pengharapan semoga Tuhan berkenan menerima semuanya.

Ketika khutbah selesai dibacakan, dan doa-doa selesai dilangitkan, Kapten berdiri menghampiri dan menyalami Zaidi, disusul kawan-kawan lain hingga membentuk setengah lingkaran, saling berjabat satu sama lain sambil melantunkan shalawat. Harris menyebut suasana ini sebagai dramatic moment. Deeply touching.

Kami semua turun ke galley setelah ritual pagi 1 Syawal selesai. Sepertinya Koki bekerja keras semalam. Ia tampak cukup kreatif memberbagaikan makanan. Ini kejutan yang kedua. Lagi-lagi saya tidak menyangka. Telah terhidang rapi di atas meja mulai dari opor ayam, rendang, sate, ikan bakar, kue ketan, minuman cincau, puding, risoles, udang spring roll, hingga kue-kue kering beberapa stoples pun ikut tersaji. Rasanya seperti berada di rumah saja. Hanya ketupat yang terlihat berbeda saat itu, tampil dalam balutan busana berbungkus plastik bening. Itu ketupat atau lontong ya? Maklum saja, tak ada daun di sini.

Pak Bachir dipersilakan menyampaikan open speech. As usual, selamat hari raya bla... bla... bla..., maaf lahir batin bla... bla... bla..., because this is our second home bla… bla… bla…, dan mari makan. Pesta pun dimulai. Beberapa orang tampak seperti sedang melakukan pembalasan dendam. Teman-teman non muslim ikut bergabung, menyampaikan ucapan selamat lebaran. Semua larut dalam suasana haru dan bahagia. Kelak pada suatu saat yang jauh di hari depan ini akan menjadi sebuah kenangan yang hebat.


"Shalat Ied di atas M.V. Java Imperia"



Saya kembali ke bridge ketika acara makan-makan usai, kurang lebih pukul sebelas. Notification penanda pesan masuk dari berbagai aplikasi chat dan social network memenuhi layar ponsel, menyampaikan ucapan-ucapan yang sifatnya formalitas-rutinitas tahunan hasil template atau copy-paste dan send to many. Sulit menemukan ucapan yang sifatnya personal sesuai dengan konteks kedekatan hubungan pertemanan. Kemudahan untuk menyambung silaturrahmi yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi masih saja dipangkas oleh rasa malas. Dan, sama halnya, semua hanya saya balas dengan "sama-sama". Saya mendapatkan kejutan yang ketiga pada hari ini. Di antara ucapan-ucapan itu, terselip satu buah yang mengusik perasaan. Seorang kawan mencoba mengirimkan simpati berupa kalimat, "Kasihan kau karena tidak bisa berlebaran di rumah…" Saya termenung sejenak, seraya menengok ke dalam diri, mencari-cari hal apa gerangan yang membuat saya pantas untuk dihadiahi rasa kasihan, dan  mencoba mengingat kembali segala hal yang menjadi alasan saya untuk memilih berada di sini. Sorry, there is no one thing that deserves to be pitied . You drunk!


Saya tidak ingin menjadi ge'er dengan merasa diri telah meraih kemenangan pada hari ini. Tapi, di balik itu, cukuplah saya merasa senang telah melewati pertandingan yang lebih sengit ketimbang tahun-tahun sebelumnya, pertandingan menaklukkan diri sendiri, meskipun kalah. Kalaupun harus ada, satu-satunya hal yang patut dikasihani dari Ramadhan tahun ini adalah betapa perihnya melewati magrib selama sebulan tanpa sekalipun melihat pisang ijo. Ah, lebay.


***



10 Agustus 2013


Sejam lagi, kurang lebih, saya tiba di rumah. Di dalam mobil angkutan bandara, hanya terisi oleh saya dan sepasang suami istri dengan dua orang anak kecil. Tiga hari yang lalu, survey tidak bisa dilanjutkan berhubung ada alat yang rusak. Dengan sangat terpaksa pekerjaan ditunda hingga alat pengganti datang dari Singapore. Kapal buang jangkar, menunggu di anchorage zone di sekitar Pelabuhan Kemaman. Crew digital dipulangkan.


Perjalanan panjang dan melelahkan, Terengganu - Kuala Lumpur - Jakarta - Makassar - Kolaka. Saya berharap masih mendapat sisa-sisa suasana hari raya. Telapak kaki yang disebut sebagai surga merindukan kecupan. []


***









Happy belated Eid Mubarak,
If just simply want to forgive each other, we do not need this celebration...

Jul 20, 2013

Pergi

INI perkara waktu. Kita harus cakap memilah sesuatu, bahwa dalam hidup ada hal yang sakral dan ada pula yang profan. Hajar Aswad, misalnya, hanya akan menjadi sebongkah batu biasa tanpa keistimewaan apa-apa jika dalam sejarahnya tidak dimuliakan oleh Baginda Nabi SAW. Juga, sebagai contoh lain, kertas pembungkus kacang tentu akan berbeda dengan kertas bahan Al-Qur'an, meskipun keduanya berasal dari satu pohon yang sama. Batu dan kertas telah mengalami transformasi menjadi sesuatu yang sakral. Kongruen halnya, ada waktu-waktu tertentu yang tidak lagi berada pada wilayah "biasa". Seperti sepertiga malam terakhir. Kalau dalam skala tahunan, yang termasuk "waktu istimewa" adalah bulan Ramadhan. Bayangkan bagaimana sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan. Ada satu malam khusus di dalamnya, yang kita kenal sebagai Lailatul Qadr. Bayangkan lagi, bagaimana malam di malam itu, saat nilai kebaikan meningkat pesat seperti pada fungsi eksponensial.

Tuhan telah memanggil, bulan ini adalah saat yang spesial untuk-Nya, dan untuk manusia tentu saja. Untuk bangsa setan bahkan, karena sementara waktu mereka dibebastugaskan. Mungkin saat ini mereka sedang senyum-senyum melihat Atid yang kebanjiran pekerjaan. Perihal keutamaan-keutamaan Ramadhan, tak perlu saya ceriterakan, hampir semua kita sudah tahu, meskipun mengetahui tidak berarti mengamalkan. Saya ada di antara yang dianalogikan pepatah arab sebagai "pohon yang tak berbuah".

Tersebab hal tersebut, jauh sebelum Ramadhan digelar, saya sudah mempersiapkan diri, mewanti-wanti teman-teman yang berperan mengatur pekerjaan di kantor untuk tidak memberikan proyek kepada saya selama Ramadhan berlangsung, saya mau fokus. Saya tidak ingin waktu-waktu istimewa terlewatkan percuma. Waktu bukan waktunya lagi–seperti adagium klasik–didefenisikan sebagai uang. Saya pikir, sebulan ini ada baiknya saya berlepas diri dulu dari urusan dunia.

Terlalu beresiko menjalani puasa di tempat seperti Jakarta, apalagi untuk pengidap penyakit lemah iman dan hati rawan maksiat seperti saya. Berjarak beberapa langkah dari depan pintu rumah, akan dengan mudah kau temui berbagai hal yang dapat menyeretmu menjadi penyandang predikat "golongan yang tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga". Makanya, saya putuskan untuk bersembunyi di kamar. Empat hari pertama berjalan mulus. Hidup saya berputar pada siklus tidur-bangun-shalat-ngaji-tidur-bangun-shalat-ngaji, diselingi makan minum secukupnya, sebutuhnya. Sedapat mungkin, hal-hal yang terhukumi sebagai ibadah sunnah juga saya sikat. Mumpung, saat ini ganjarannya berkali lipat. Ya, kapan lagi, tidak ada yang menjamin usia bertahan hingga tahun depan, sementara bekal pulang masih jauh dari kata cukup dan timbangan amal lebih condong berat di kiri. Keadaan mengurung diri di kamar sampai-sampai mengkhawatirkan Habib Ali, tetangga sebelah yang kerap datang mengetuk pintu untuk memastikan saya baik-baik saja.

"San, ente sakit ya, koq kaga' pernah keluar, kaya' orang putus cinta aja," katanya pada suatu petang, sambil mengajak saya berbuka di rumahnya.

"Ane bae', Bib," jawab saya singkat.

Kerja-kerja indra coba untuk saya minimalisir, seraya berusaha sekuat tenaga mencontoh style puasa a la Sayyidah Maryam. Tapi, ampun, betapa susahnya untuk tidak mendengarkan musik dalam sehari, serta betapa beratnya untuk meninggalkan kebiasaan berbicara hal-hal tidak penting, di dunia nyata, lebih-lebih di dunia maya.

Ada sebuah buku yang cukup melegenda di kalangan mahasiswa, semacam handbook buat mereka yang aktif di pergerakan, judulnya Rekayasa Sosial. Jangan coba-coba ikut nimbrung di lingkaran kelompok kajian jika belum menamatkannya, begitu kata Tuan Senior. Kalau tak salah, saya pernah membaca tentang Needs Classification di dalamnya. Mulai dari yang terbawah berupa pemenuhan kebutuhan indrawi, kepemilikan materi, hingga yang tingkatannya lebih tinggi dan lebih abstrak, termasuk di sini kebutuhan terhadap pengakuan orang lain. Anak gaul sekarang menyebutnya dengan istilah "banci eksis". I hide one thing in the cycle that mentioned above, bahwa pola rutinitas tadi juga sesekali diselingi kegiatan mengintip halaman Twitter, Path, dan Facebook. Celakanya, saya tidak bisa tahan untuk tidak updates. Mulut boleh dibungkam, tapi jempol yang akan bicara. Empat sisi dinding kamar jadinya hanya batas semu semata. Ini salah satu cobaan berat berpuasa di zaman digital. Kadang saya menyayangkan, mengapa perkembangan teknologi terlalu cepat dan terlalu jauh berlari. Ingin rasanya kembali berada di era kejayaan Nokia 3310, masa di mana internet dan social networking tidak menguras habis waktu dan membuatmu kecanduan begitu rupa. Mungkin, hikmahnya, untuk kondisi-kondisi seperti inilah Ramadhan hadir lagi dan mengingatkan kepada kita perihal bagaimana memahami esensi serta keterhubungan antara kata "kendali" dan "hawa nafsu". Puasa, sejatinya, adalah tali kekang bagi keinginan-kebutuhan serta nafsu liar yang senantiasa pergi pulang dari dan ke tempatnya bersemayam, hati.

Dua hari yang lalu, misi persembunyian saya terganggu oleh sms yang datang dari seorang kawan, memberitakan perihal pekerjaan, yang tidak bisa tidak, saya yang harus melakoninya. Saya mau tolak, tidak bisa. Saya coba lobi dengan menawarkan pengganti pun tetap tidak bisa. Saya sedih dan kecewa. Baru saja saya mau menikmati keadaan, mereka datang membuyarkan rencana-rencana. Namun, setelah beberapa saat bersitegang, akhirnya saya mengalah, tapi tentu ini bukan tanpa alasan.



***


Saya berkhidmat kepada seorang Mursyid, yang kedalaman ilmunya, boleh dikata, tak tertandingi. Sepanjang yang saya kenal, tidak pernah saya melihatnya melewati satu hari tanpa membaca kitab.  Jikalau kau mendengar cerita tentang kedermawanannya, matamu akan terbelalak dan mulutmu akan berkata wow. Sungguh, tiada tara. He guided me to a better condition than who i was previously, alaa kulli hal, lahir dan batin. Pada dirinya tercermin sifat matahari, memberi kepada yang berada di bawahnya tanpa memandang apa, siapa dan dari mana latar belakangnya. Pada dirinya ada sifat laut, lebar lengannya mampu menampung dan menerima segala macam persoalan dan kegelisahan umat manusia yang mengalir dari hulu sungai kehidupan. Beliau menyebut dirinya sebagai al-Bahr, Lautan.

Kepadanya, segala permasalahan berujung pada jalan keluar, termasuk kerisauan atas pekerjaan yang saya anggap sebagai "gangguan" dalam menjalani Ramadhan. Saya utarakan seluruh resah hati dan kebutuhan atas petunjuk, yang mana yang harus saya pilih antara menerima tawaran pekerjaan atau fokus beribadah di rumah. Sms saya terbalas hanya dengan satu kata: Pergi.

"Ini kan Ramadhan?" tanya batin saya. "Bagaimana mungkin saya disuruh untuk meninggalkan kesempatan yang telah Tuhan buka."

"Pergi" kemudian merasuki alam perenungan saya.  Konklusi "pergi" itu saya pandang sebagai puzzle, dan saya harus menyusun keping-keping premis yang berserakan agar tercipta gambaran jawaban yang jelas. Ternyata saya harus memutar balik point of view terhadap pekerjaan. Ada value yang harus dilekatkan di situ sehingga tidak terjatuh menjadi urusan dunia belaka. Satu-satunya cara agar hal tersebut bernilai ibadah adalah menggiringnya ke wilayah sosial, dengan mendermakan semua penghasilan yang didapat untuk kepentingan orang-orang susah dan tidak mampu.

Jadi, begini...

Urusan berasyik-masyuk dengan Tuhan dengan cara mengurung diri beribadah di kamar, setelah saya selami lagi, rupanya itu terkesan egois. Junjungan kita, Rasulullah SAWW menjalani Ramadhan dengan bersedeqah jauh lebih banyak dan lebih sering ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Dalam sejarah disebutkan melebihi hembusan angin. Akal saya gagap menjangkau model sadaqah macam apa gerangan yang frekuensinya melebihi hembusan angin. It was great, exactly, menakjubkan. Nah, untuk ittiba' terhadap hal itu, kita butuh harta, dan karena butuh harta makanya kita harus bekerja. Kalau mau bersedeqah lebih banyak, berarti harus berharta lebih banyak, it means harus bekerja lebih giat. Mengisi Ramadhan bukan melulu perkara berapa kali putaran tamat baca Qur'an selama sebulan, atau berapa banyak additional rakaat yang ditunaikan diluar dari tujuh belas per lima waktu seperti biasanya, lebih dari itu, pengamalan ibadah sosial harus mendapat porsi yang lebih besar. Ramadhan berisi satu paket ibadah. Di dalamnya ada dua kewajiban utama, yakni puasa dan zakat. Setelah puasa, yang merupakan urusan vertikal dengan Tuhan terpenuhi, zakat adalah kewajiban lain yang menunggu ditunaikan, arahnya horizontal, hubungan manusia dengan manusia. Meskipun ada standar berapa besar yang harus dikeluarkan, tetapi alangkah baiknya jika kita mau dan mampu melampaui itu. Bukankah standar diciptakan tidak untuk dicapai, melainkan untuk dilampaui? Kalau kau tak percaya, coba tanya kepada penggiat MLM. Sadaqah dan zakat itu laksana air pencuci, penyuci, dan penghapus dosa. Meniatkannya sebagai kafarat wajib untuk diterapkan dan dikerapkan. O, sekarang saya mafhum kenapa saya disuruh pergi.

"Pergi" dalam sekejap mampu mengubah cara pandang dan merombak pondasi pengetahuan yang saya susun dalam memaknai Ramadhan. Saya harus berhati-hati, pahala bisa berubah menjadi berhala.

Guruku, pada suatu waktu yang lain, pernah berkata bahwa menjadi kaya adalah fardhu ain, wajib hukumnya. Orang-orang miskin di luar sana, imannya telah jatuh. Untuk menyelamatkan mereka, kita butuh harta yang banyak. Urusan fiqh, tauhid, tasawwuf, atau filsafat tidak mungkin terlintas di kepala mereka yang lapar. Aqidah akan segera tergadai jika perut terus menerus kosong. Saya tanam dalam-dalam pesan ini di ingatan saya yang rajin lupa.

Dan, setelah meluruskan niat, saya putuskan keluar dari kamar.


***


Satu masalah selesai, meski masih ada kegelisahan lain. Saya sedikit merasa terusik dengan suara-suara sumbang di belakang, dan hal itu susah untuk saya pedulisetan-kan. Pilihan-pilihan hidup yang saya jalani kadang terdengar klise, bahkan lebay di telinga orang lain. Termasuk perihal memilih mau bekerja atau beribadah. Yang ini bahkan mendapat bonus hadiah cibiran.

Pada akhirnya, saya berusaha maklum dan belajar berdamai dengan keadaan, toh karena setiap orang punya tafsir masing-masing dalam menangkap, memahami dan menjalani perintah Tuhan.

Sekarang, yang harus saya lakukan hanya satu, pergi. []


***




Happy Fasting, Folks. Tetap bekerja, dan menjadilah kaya!
Jakarta - Kuala Lumpur - Terengganu, Juli 2013

Aug 1, 2012

Gerobak

Saya lelah sekali, seharian berada di luar.
Lepas shalat subuh saya berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Hari ini jadwal medical check-up, sebagai syarat pekerjaan survey di offshore. Banyak informasi yang miss mengenai apa saja yang akan diperiksa. Mereka meminta sampel darah dua kali, salah satu di antaranya adalah dua jam setelah makan. Padahal hari itu saya puasa, dan mereka meminta saya untuk membatalkannya. Karena saya tidak rela, maka disarankan untuk ambil darah dua jam setelah buka. Akhirnya saya tunggui magrib dengan menghabiskan waktu di masjid, ya mau ke mana lagi, tak ada kenalan di sekitar situ. Setelah berbuka gratis, saya tinggal lagi barang satu jam sampai masuk isya. Jadi ketika orang-orang berdatangan hendak menunaikan tarawih, saya malah dengan santai menggendong tas keluar dari masjid.

Tidak cukup sampai di situ ke-miss information-annya, ternyata untuk mengambil sampel urine, pasien tidak boleh mengkonsumsi obat setidaknya tiga hari sebelumnya, dan seingat saya, semalam, dengan penuh percaya diri demi mendapatkan tidur yang nyenyak setelah berjibaku dengan pilek yang mengganggu, saya tenggak satu biji tablet Tremenza. Maka dengan santai, dokter yang cantik itu bilang,

"Kamu datang lagi ya tiga hari berikut!"

"Iya deh, demi kamu saya akan datang lagi, jangankan tiga hari berikut, setiap hari bahkan, kalau kamu minta, saya akan datang," jawabku, dalam hati tapi.

Akhirnya semua urusan baru bisa rampung pukul setengah sembilan malam. Saya masih harus menempuh jarak sekitar tiga puluh kilometer lagi untuk sampai di rumah. Malam ini saya menuju Bekasi, rumah teman. Memikirkannya saja sudah menguras tenaga, belum lagi macet yang semakin menggila.

Saya tersiksa menahan kantuk, punggung sakit memikul daypack yang berat sambil berdiri berpegang pada handrail/bus hanger, lompat dari pintu angkot yang satu ke pintu angkot yang lain: empat kali.

Setiba di gerbang kompleks, saya masuk menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Udara malam terpaksa saya anggap segar karena pembandingnya adalah polusi jalan ibukota seharian tadi. Sudah jam sebelas malam. Sepanjang pandang, semakin ramai tempat ini dibanding tujuh bulan yang lalu, ketika terakhir saya berkunjung. Namun, ada satu hal yang tidak berubah, pemulung masih menjadi manusia-manusia malam, berjalan menyisir setiap tong sampah di depan ruko-ruko yang berdiri dari ujung ke ujung.

Sebuah gerobak terparkir dalam keadaan sarat muatan. Pegangannya mendongak ke atas. Perlahan dari arah depan saya lihat pemiliknya. Ketika persis berada di sisi saya yang berjalan ke dalam, saya sempat menengok, ada seorang perempuan dan anak kecil sedang duduk di dalam gerobak tersebut. Mungkin dia berhenti karena sedang istirahat, karena lelah menarik gerobak yang berisi barang bekas, dan juga keluarganya.

Setelah melewatinya beberapa langkah, saya berhenti, di belakangku ia pun belum bergerak. Saya merogoh saku, mengangsurkannya selembar uang.

*

Semua kelelahan serta keluhan yang saya alami sepanjang hari ini menjadi tidak ada apa-apanya, saya baru saja diperlihatkan sebuah scene pembanding yang cukup memilukan. Malam ini, saya merasa seperti membeli energi, full charged. Saya bugar kembali setelah berlalu meninggalkan pemulung yang bersiap pergi mengangkut seluruh harta bendanya entah hendak dibawa ke mana.

Bulan Ramadhan baru saja digelar, masih di sepertiga awal.

Allah Kariim.


***

Bekasi, 31 Juli 2012

Aug 23, 2011

Menonton Ramadhan

Adzan ashar telah sampai di bait terakhir, motor yang saya kendarai sore itu melaju dengan tidak terburu-buru, saya fikir waktu masih luang karena ada sesi shalat sunnat qabliyah. Tetapi saya kaget, karena ini tidak seperti biasanya, setelah adzan, iqamat langsung terdengar. Pelataran Masjid Al-Furqan di kompleks Harapan Indah Bekasi saat itu terlihat ramai oleh kendaraan, pedagang, spanduk-spanduk dan bendera berlogo sebuah stasiun TV swasta. Setiba di masjid saya baru menyadari kalau ada rangkaian program Ramadhan berupa Tabligh Akbar yang ditayangkan secara live.

Masjid penuh, saya kebagian tempat di sisi luarnya saja. Shaf terdepan telah terisi oleh kamera besar yang disangga kakitiga, dua buah monitor layar datar, serta pendingin ruangan yang berdiri berbalut kain putih. Setelah shalat, lelaki di depan saya menyalami dua tiga orang di sebelah kanannya, lalu berbalik menyorongkan tangan ke arah orang-orang di belakangnya. Dia tampak terburu-buru, seperti juga halnya imam di depan sana yang memperpendek wirid-wiridnya. Orang itu bergegas ke tempat deretan perkusi, gamelan dan bedug yang dipasang memanjang di sisi sebelah kanan masjid. Dia lantas duduk memperbaiki letak songkoknya, melilitkan sorban dan mengenakan kacamata hitam. Rupanya dia adalah salah satu anggota Aura Percussion yang bertugas menyuguhkan bebunyian pembuka ataupun jeda ketika iklan harus permisi memotong acara. Beberapa saat setelah doa mencapai kata amin, siaran langsung segera dimulai. Riuh tetabuhan mengiringi suara gamelan membuka acara yang, kata satpam penjaga parkir, mirip barongsai. Bunyi-bunyian itu seakan menyeret saya keluar dari suasana sakral shalat di masjid ke dalam suasana riuh pesta. Saya berangkat ke masjid sore itu dengan motif keberagamaan yang paling dangkal, beribadah layaknya seorang pedagang, berhubung Tuhan masih jauh untuk saya gapai dengan pendekatan cinta. Ramadhan menawarkan pundi-pundi pahala yang sayang untuk dilewatkan. Ada paket ibadah combo yang saya pikir bisa menambah daftar catatan saya di kertas yang ditulis Raqib: bonus pahala berjamaah beserta shalat-shalat sunnat di masjid. Tetapi saya kecewa, kebaikan-kebaikan itu harus dipangkas oleh siaran yang harus tayang tepat waktu.

Selesai salam, ada sedikit jeda waktu sebelum kemudian Host tampil membuka acara. Saya edarkan pandangan, masjid perlahan-lahan sesak, dengan tambahan jamaah yang terlambat datang, rangkaian sound system, lighting yang terpasang di sudut-sudut ruangan, serta rel-rel yang menyeret kamera kesana kemari demi mendapatkan view yang tidak melulu satu sisi saja, semuanya diangkut kedalam masjid. Masjid tiba-tiba terasa asing, berubah wajah menjadi sebuah studio. Ada dua orang penceramah di depan, yang satunya baru saja selesai menyampaikan sebuah cerita ketika tiba-tiba saya mendengar kalimat, “jangan kemana-mana, kita akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini!”

Tiba-tiba ada perasaan lain yang menjalari tubuh saya sehingga tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pulang.


***


Dalam keterhubungan yang tidak disengaja, saya menemukan beberapa tulisan yang menggambarkan fenomena-fenomena keagamaan dalam keterkaitannya dengan materialisme agama. Dalam kurun waktu tahun 1940-1960, di Kwitang, Majelis Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi selalu dibanjiri jamaah. Hampir seluruh masyarakat Betawi kala itu berguru di sana. Abdurrahman Wahid mencatat peristiwa tajamnya penyiasatan para kondektur dan kenek ketika hari Minggu tiba dalam sebuah esai yang berjudul “Kwitang, Kwitang”. Perubahan jalur-jalur angkutan umum yang mengakomodir kebutuhan orang-orang untuk sampai ke tempat pengajian memunculkan rute dadakan dari daerah X, Y atau Z ke daerah Kwitang.

Sesuatu yang awalnya suci, jika dilihat dari perspektif pengalaman pribadi jamaah pengajian yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai pencari ilmu, dalam perjalanannya akan bertransformasi menjadi sesuatu yang berdimensi sangat duniawi, yaitu ketika pemenuhan keinginan para jamaah tersebut tuntas dimanfaatkan demi keuntungan mereka yang bisa menawarkan jasa dan barang. Fenomena tersebut menunjukkan kompleksnya penghayatan agama, bila diletakkan dalam kerangka kemasyarakatan. Sama halnya jika dipindahkan ke dalam konteks ceramah-ceramah agama yang menjadi kian semarak khususnya di bulan Ramadhan ini, penyampaiannya menjadi tidak sesederhana dulu berkat adanya sarana komunikasi visual yang tidak lagi membatasi ruang. Di Amerika, televisi menyiarkan secara langsung khutbah-khutbah di gereja, yang dikenal dengan istilah Televangelisme. Dalam kaitannya dengan islam Indonesia, kita bisa melihat ceramah-ceramah agama yang ramai disiarkan setiap stasiun televisi. Namun, ceramah dan televisi adalah dua sisi yang berbeda. Kuntowijoyo membagi dua jenis budaya ke dalam Budaya Masjid dan Budaya Pasar. Pemilahannya didasarkan atas dua kutub yang berseberangan, budaya masjid sebagai penggambaran budaya masyarakat yang bersih dan jujur, jauh dari aspek hedonisme, sedangkan budaya pasar yang merujuk pada budaya masyarakat yang penuh tipu daya dan selalu mengedepankan kepentingan materi. Tetapi, semakin ke sini, semakin kabur batas antara keduanya ketika kemudian masjid dijadikan sebagai jalan pemenuhan kebutuhan pelaku pasar. Ceramah agama yang dalam hal ini bisa menjadi sarana serta proses internalisasi nilai-nilai agama menjadi terasa aneh ketika harus dipotong oleh iklan.

Agama yang mengalami pendangkalan atas pemahamannya bersinergi dengan kemenangan budaya pasar. Sikap keberagamaan ekstrinsik terlihat jelas ditandai dengan orang-orang yang menganggap agama sebagai sesuatu yang bisa digunakan semaunya, “something to use but not to live“. Tidak hanya sebatas fenomena Kwitang dan ceramah televisi yang dikemukakan di atas, kita bisa melihat jelas di ruang-ruang publik atau di sepanjang jalan, para politisi memasang gambar-gambar diri mereka dalam balutan busana muslim agar tercipta kesan saleh/salehah, menarik simpati masyarakat dengan membubuhi kata-kata indah serta ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Agama dikerdilkan perannya menjadi bagian dari mesin politik yang bisa menjala suara rakyat di ajang pemilu. Saya jadi teringat kata-kata dari akun mikroblogging Yudi Latif yang sepertinya cukup relevan dengan kasus-kasus tadi, di situ ia menyatakan bahwa “Tuhan tak pernah berubah, tapi cara mendekatinya yang berubah. Kini Tuhan diseru sebagai juru bayar ambisi konsumerisme manusia”.

Tali temali yang menjalin hubungan antara agama dengan sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakat, jika tidak dipahami secara mendalam sangat memungkinkan terjadinya degradasi nilai. Di saat yang sama, saya mendapati semacam menunjukkan sebuah dukungan terhadap kemunduran nilai itu, orang-orang hadir di masjid dengan membawa segala macam penanda status sosial, kunci mobil dan telepon-genggam-pintar yang sengaja dipajang menghiasi tempat sujud. Belum lagi kaum ibu yang datang dengan penampilan tidak praktis, memasukkan segala macam kerepotan ke dalam sebuah tas dan akan kewalahan ketika masih harus memerlukan beberapa jenak waktu untuk berganti kostum sementara shalat segera dimulai.


***


Dalam keputusan pulang meninggalkan masjid sore itu, saya membawa sejumlah kegelisahan dan pertanyaan, apakah majelis-majelis seperti ini yang ditayangkan setiap hari selama ramadhan memang benar diniati sebagai majelis ilmu dan sarana syiar agama, atau memang sejak mula telah menjadi kendaraan bagi para pemilik modal, dalam hal ini industri televisi, demi mengumpulkan keuntungan-keuntungan materi? Bagaimanapun, ramadhan berpotensi menjadi semacam pemicu bagi para pelaku di dunia pertelevisian untuk menyusun sejumlah program-program yang bisa meraup jumlah penonton sebanyak mungkin yang akan berakibat pada membanjirnya iklan. Lihat saja misalnya pada jam-jam sahur, hampir semua stasiun berlomba-lomba menayangkan hiburan yang seragam, dengan content yang konyol dan tidak bermutu serta jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Saya jadi berpikir, di sepertiga malam yang terakhir itu, bagaimana mungkin waktu yang seharusnya kita isi dengan banyak merintih menyesali dosa dan menangis di hadapan Tuhan, malah kita habiskan dengan tertawa terbahak-bahak di depan televisi. (*)


Sep 28, 2010

Habibi


Dia  terlahir sebagai Habibi, kalau tidak salah, lengkapnya Muhammad Habibi. Tapi entah sejak kapan dia dipanggil dengan nama Dofo. Dulu, di kampung ada trend mengganti nama panggilan sesuka-suka kita, yang kita rasa-rasa kira-kira keren. Aku mengenalnya ketika  SMP, waktu itu di kampung kami lagi musim balap sepeda.

Tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu tentang Dofo setelah sekitar delapan tahun tak bertemu, sambil mengais-ngais ingatanku yang payah untuk mengingat jaman-jaman yang lama.

Aku teringat pada sebuah baju bergambar mobil bertuliskan Land Rover, dengan merek C59, berwarna biru tua. Aku membelinya ketika menjelang lebaran. Suatu sore, aku memakainya ketika  hendak les sore di sekolah. Angkot yang aku tumpangi waktu itu ternyata sudah berisi beberapa penumpang, salah seorang diantaranya adalah Dofo yang langsung tertawa begitu melihatku. Setelah aku perhatikan, ternyata baju yang kami kenakan sama persis.

Di sekolah, hampir semua anak laki-laki mengenal  Dofo. Dia terkenal bengal, mungkin karena pengaruh lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Tapi, di sisi lain, Dofo juga adalah orang yang setia kawan, dan paling suka bercanda. Di antara teman-teman sebaya, Dofo menjadi salah seorang yang disegani. Kalau kamu tergolong anak yang nakal, bertemanlah dengan Dofo, niscaya dia akan menjadi “partner in crime” yang baik. Kenangan ketika bersama-sama melompati pagar sekolah dan dikejar-kejar guru yang mencari siswa-siswa berambut panjang berkelebat di kepalaku. Aku dan Dofo termasuk DPO kala itu. Di penghujung masa SMA, nasib sial menimpa Dofo dan dua orang kawan lainnya. Ditemukan sebuah barang bukti berupa botol minuman yang berakhir dengan keputusan ia dikeluarkan dari sekolah. Sebagian besar anak kelas tiga berkumpul di depan koperasi sekolah, untuk sekedar bersimpati menyesali keputusan itu. Padahal sebentar lagi kami Ebtanas. Namun sebenarnya, keputusan itu tidak berarti apa-apa bagi pertemanan kami, karena sekolahnya saja yang pisah, toh hampir setiap malam kami bertemu di rumah salah seorang teman, rumah yang kami sebut sebagai Barak.

Selain kenangan tentang  baju Land Rover itu, aku juga teringat akan sebuah jaket berwarna biru putih. Dofo meminta kepadaku untuk dibuatkan sulaman di sisi belakang jaket itu dengan tulisan “Bharaq”. Jaket itu aku bawa pulang ke rumah dan mengerjakannya hingga tengah malam. Besoknya, lepas jam sekolah aku memperlihatkan hasilnya, dan dia sangat senang. Dia selalu memamerkannya kepada teman-teman yang lain, dengan bangga.

Ingatan itu seperti keping-keping puzzle. Dan tentang hubungan pertemanan dengan Dofo, aku tidak mampu menyusunnya dengan lengkap. Kabar terakhir yang aku dengar, setelah tamat SMA, Dofo ikut di kapal pencari ikan hingga ke Kupang. Meskipun itu tidak berapa lama dan pada akhirnya dia kembali juga ke kampung, aku tidak pernah sempat bertemu dengannya. Padahal Dofo adalah salah satu dari daftar teman yang selalu ingin kutemui setiap aku pulang. Hingga mudik lebaran kemarin pun, aku lagi-lagi tidak sempat bertemu. Rumah kami, bahkan, tidak terpaut cukup jauh jaraknya.

***

Beberapa hari kemarin, aku dikagetkan oleh sms dari seorang kawan yang berisi permohonan doa untuk Dofo yang sedang berjuang melewati masa kritis. Dia menjadi korban tabrak lari dari sebuah mobil berplat merah.  

Setelah empat hari terbaring koma, kemarin pagi Dofo meninggal.


© Technology 2013 All rights reserved Template by Buhth